Tag Archives: gerinda

Standar penandaan roda gerinda

Pada setiap roda gerinda terdapat suatu standar penandaan untuk menentukan identitas sebuah batu gerinda. Identitas ini dituliskan pada kertas label yang ditempelkan pada sisi roda gerinda atau dengan cara lain berupa huruf-huruf dan angka-angka. Penandaan ini bertujuan, agar pengguna mengetahui spesifikasi utama yang ada pada roda gerinda tersebut diantaranya: jenis butiran abrasive, ukuran butiran abrasive, jenis perekat, tingkat kekerasan dan strukturnya. Selain itu sebuah roda gerinda juga diberi identitas lain yaitu: ukuran (diameter luar, diameter dalam dan
ketebalan) dan merk pabrik pembuatnya.

Contoh penandaan salah satu jenis roda gerinda dapat dilihat pada

Penandaan sebuah roda gerinda harus berdasarkan standar yang telah ditetapkan, sehingga setiap pabrikan pembuat roda gerinda dalam pembuatnnya harus mengikuti standar tersebut. Standar penandaan roda gerinda dapat dilihat pada gambar dibawah

Pemasangan Batu Gerinda

Pemasangan batu gerinda ada yang langsung dan tak langsung. Biasanya pemasangan langsung ada pada mesin gerinda meja dan yang tak langsung pada mesin gerinda presisi. Maksud tak langsung di sini bahwa batu gerinda pemasangannya melalui collet batu gerinda dan selama batu gerinda ini masih dipakai tidak boleh dilepas kecuali akan diganti atau diperiksa kembali kesetimbangannya. Pada pemasangan batu gerinda baik langsung atau tak langsung harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Yakinkan kertas pelapis masih melekat seluruhnya dengan rata pada kedua sisinya.
  2. Periksa sekeliling batu gerinda, apakah ia tidak bertatal, tidak cacat, dan bebas dari oli atau gemuk.
  3. Yakinkan bahwa lubang batu gerinda tidak rusak. Hilangkan noda-noda atau bagian yang kasar menggunakan sekrap tangan.
  4. Pengepasan sumbu batu gerinda diusahakan masuk dengan pas pada lubang batu gerinda, tidak longgar ataupun dipaksakan. Dengan kata lain lubang batu gerinda harus bisa masuk pada pasangannya dengan pas tanpa kelonggaran.
  5. Kondisi permukaan seluruh permukaan ring pelapis, flens dan batu gerinda harus benar-benar rapat, serta tidak terhalang oleh tatal atau benda-benda lain.
  6. Bus selongsong pada lubang gerinda harus ada, bentuk dan ukurannya tidak boleh berubah, misalnya lonjong atau melebar.
  7. Ring pelapis harus rata menempel pada permukaan batu gerinda. Ukuran diameter ring pelapis tidak boleh terlalu kecil daripada ukuran diameter flensnya. Apabila ring pelapis terbuat dari kertas maka tebalnya tidak boleh lebih dari 0.5 mm, dan jika terbuat dari kulit tidak boleh lebih dari 3,2 mm.
  8. Diameter flens tidak boleh kurang dari 1/3 diameter batu gerinda. Bentuk flens harus mempunyai pembebas. Dan, diameter lubangnya harus cocok dengan poros mesin gerinda.
  9. Ulir spindel, baik mesin gerinda presisi atau tangan, putaran ulir harus mempunyai arah yang berlawanan dengan arah putaran sumbu mesin.
  10. Mengeraskan mur/baut. Meskipun baut yang dikeraskan hanya bersinggungan dan menekan flens tidak langsung pada as batu gerinda, namun pengerasan tetap harus dilakukan secara hati-hati dan dijaga agar jangan sampai membuat cacat batu gerinda. Sedangkan pengikatannya harus cukup kuat, tidak kendor, dan tidak terlalu keras.

Tingkat Kekerasan Roda Gerinda

Yang dimaksud dengan tingkat kekerasan batu gerinda adalah kemampuan perekat untuk mengikat butiran pemotong dalam melawan pelepasan butiran akibat adanya tekanan pemotongan seperti gambar dibawah

Screenshot_111

Dalam penggunaannya, tingkat kekerasan batu gerinda harus disesuiakan dengan jenis bahan yang akan digerinda agar dapat melakukan pemotongan dan mendapatkan hasil yang maksimal. Berikut ini diuraikan tingkat kekerasan roda gerinda.

  • Roda gerinda lunak. memiliki prosentase perekat sedikit, sehingga memiliki sifat mudah untuk melepaskan butiran di bawah tekanan pemotongan
    tertentu. Penggunaannya untuk menggerinda material yang keras.
  • Roda gerinda keras. memiliki prosentase jumlah perekat besar. Sehingga memilki sifat sulit untuk melepaskan butiran pada tekanan pemotongan tertentu. Penggunaannya untuk menggerinda material yang lunak.

Tingat kekerasan batu gerinda selain ditentukan oleh jumlah perekat, juga ditentukan oleh jenis perekat yang digunakan.

Jenis-Jenis Butir Asahan (Abrasive)

1. Alumunium Oxide (Al2O3) 
Merupakan jenis yang paling banyak digunakan sebagai bahan pembuatan roda/ batu gerinda. Bahan ini dipergunakan untuk menggerinda benda kerja yang mempunyai tegangan tarik tinggi. Misalnya baja carbon, baja paduan, HSS. Simbol: A
2. Silicon Carbida (SiC) 
Merupakan bahan yang sangat keras, kekerasannya mendekati intan. Digunakan untuk menggerinda benda kerja bertegangan tarik rendah. Misalnya, besi tuang kelabu, grafit, aluminium, kuningan, dan carbida. Simbol: C.
3.Diamond (Intan) 
Bahan asah yang sangat keras, digunakan untuk menggerinda benda kerja dengan kekerasan sangat tinggi. Contohnya carbida semen, keramik, kaca, granit, marmer, batu permata. Simbol: D.
4.Boron Nitride (BN) 
Bahan ini digunakan untuk menggerinda benda kerja yang sangat keras. Kristal bahan ini berbentuk kubus. Contoh: baja perkakas dengan kekerasan di atas 65 HRC, karbida. Simbol: CBN. Butiran asahan atau abrasive memiiliki sifat kegetasan. Kegetasan ialah sifat butiran untuk menahan diri dan membentuk runcingan yang baru, sehingga butiran tetap menyayat tidak menggesek.