Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise)

 artikel, K3
loading...
Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. Risiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. Dan jika risiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/”diobati”). Sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan. 
Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu: 
1. Dampak auditorial (Auditory effects) 
2. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran, seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran, suara dering/ berfrekuensi tinggi dalam telinga. 
3. Dampak nonauditorial (Nonauditory effects) 
4. Dampak ini bersifat psikologis, seperti gangguan cara berkomunikasi, kebingungan, stres, dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. 
Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 
1. Percakapan biasa (45-60 dB) 
2. Bor listrik (88-98 dB) 
3. Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) 
4. Gergaji mesin (110-115 dB) 
5. Musik rock (metal) (115 dB) 
6. Sirene ambulans (120 dB) 
7. Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) 
8. Pesawat terbang jet (140 dB). 
Sedangkan jenis industri, tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 
1. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 
2. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 
3. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam.
http://www.teknikmesin.net/atom.xml?redirect=false&start-index=1&max-results=100

Author: 

No Responses

Comments are closed.