Kapasitas SMK untuk Dunia Industri

 artikel
loading...

Ditinjau dari sejarahnya, pendidikan teknik tingkat menengah atau sekarang disebut SMK sudah ada sejak zaman penjajahan sebagai bentuk awal dari pendidikan di bidang teknologi.  Sekolah teknik (ST) pernah
mengalami masa jaya sebagai penghasil tenaga kerja yang benar-benar siap untuk melakukan apa yang menjadi deskripsi tugas seorang tukang. Dalam perkembanganya selanjutnya didirikan pula sekolah kejuruan di tingkat menengah atas seperti sekolah teknik menenga karena tuntutan kulitas mulai muncul sejalan dengan pertumbuhan kehidupan masyarakat dan perkembangan faktor demografis yang lain, maka pertumbuhan sekolah kejuruan itupun kemudian lebih menekankan pada segi kuantitatif sehingga aspek kualitatifnya mau tidak mau harus sedikit dikorbankan. Lebih-lebih  dengan perkembangan pendidikan kejuruan yang dikelola pihak swasta, meskipun jumlahnya masih relativ sedikit tetapi cukup menimbulkan masalah dalam  aspek pengendalian mutunya.


Pendidikan kejuruan adalah subsisitem dari seluruh sistem pendidikan yang dikenal membawa misi tertentu. Misi untuk membantu anak didik belajar dan berusaha menjadi warganegara yang produktif, bertanggung jawab dan bermanfaat, ini barangkali tidak begitu mudah tercapai, terutama karena adanya sikap yang negatif terhadap pendidikan kejuruan secara keseluruhan. Dalam penyelengaran untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan kejuruan (SMK) masih terkendala dalam beberapa hal diantaranya adalah kapasitas sumberdaya dan kapasitas kerjasama antara pendidikan kejuruan (SMK) dengan dunia usaha (DU) dan dunia industri (DI).

Pertama, sumberdaya yang diperlukan untuk meningkatkan kulitas pendidikan kejuruan, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya (uang, bahan, peralatan, pelengkapan dsb ) masih jauh dari kapasitas yang diharapakan. Jumalah kualitas dan relevansi sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk meningkatkan pendidikan merupakan masalah yang krusial. Banyak kasus penempatan pejabat pendidikan kejuruan yang kurang memperhatikan persyartan yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga ditemukan banyak kesalahan penempatan “ the wrong person in the place “. Kenyataan ini menunjukan betapa penting dan segeranya menangani masalah pengembangan kapasitas sumberdaya manusia. Kapasitas sumberdaya selebihnya, baik perangkat lunak maupun perangkat keras termasuk teknologinya, khususnya peralatan dan perlengkapan praktek, telah out of date. Peremajaan peralatan dan perlengkapan laboratorium dan praktik tentunya merupakan jalan keluarnya, namun hal ini memerlukan investasi yang tidak sedikit.

Kedua,  kerjasama antara SMK dengan industri masih lemah. Kerjasama yang belangsung selama ini sangat variatif bentuknya dan sukar dijamin keberlanjutanya. Misalnya, praktik industi (PI) atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) siswa SMK masih beragaman dalam pembiayaanya. Pada industri tertentu siswa SMK yang praktik industri diberi uang imbalan jasa oleh industri tempat pratik. Pada industri lain  siswa tidak diberi imbalan jasa sama sekali oleh industri dan pada indutri lainya lagi siswa malah dipungut biaya praktik oleh industri tempat praktik. Peraturan undang-undang yang mengatur kerjasama antara pendidikan kejuruan dan industri perlu diupayakan keberadaanya.

Agar semua pihak yang mengurus pendidikan kejuruan memiliki kapasitas yang memandai untuk meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan, maka perlu ditempuh upaya-upaya pengembangan kapasitas yang dilakukan secara terencana dan sistematis dalam implementasinya.
http://www.teknikmesin.net/atom.xml?redirect=false&start-index=1&max-results=100

Author: 

No Responses

Comments are closed.