Gejala meniscus

 artikel
loading...

permukaan suatu zat cair harus tegak lurus dengan resultan gaya yang bekerja padanya. Karena jika tidak, akan ada komponen gaya yang sejajar dengan permukaan, yang sesuai dengan hukum II Newton, akan menyebabkan adanya gerakan permukaan. Pada umumnya permukaan zat cair adalah horizontal, yaitu tegak lurus dengan gaya gravitasi; namum jika zat cair ini bersentuhan dengan suatu zat padat, permukaan pada tepi persentuhan ini biasanya berupa lengkungan. Gejala seperti ini disebut gejala meniscus. Perhatikan gambar berikut yang menunjukkan gejala meniscus ini.

Screenshot_139

Untuk menjelaskan terjadinya gambar (a), tinjaulah zat cair di B yang bersentuhan dengan dinding vertical. Zat cair di B mengalami gaya tarik menarik BC yang dihasilkan oleh molekul-molekul zat cair disekitarnya, yaitu gaya kohesi. Gaya kohesi adalah gaya tarik-menarik antara molekul-molekul yang sejenis. Di samping gaya kohesi ini, terdapat pula gaya BA yang dihasilkan oleh molekul-molekul zat padat, yang disebut gaya adhesi. Gaya adhesi adalah gaya tarik-menarik antara molekul-molekul yang tidak sejenis.

Jika gaya adhesi BA ini lebih besar daripada gaya kohesi BC, maka resultan gaya BR pada zat cair di titik B akan berarah ke kiri, seperti ditunjukkan pada gambar (a). Akibatnya permukaan di B tegak lurus terhadap arah gaya BR, sehingga terbentuklah gejala meniscus cekung. Pada jarak yang agak jauh dari dinding, gaya kohesi lebih kuat daripada gaya adhesi sehingga resultan gayanya hampir vertikal, dan permukaan zat cair lebih mendekati horizontal. Sekarang tinjaulah Gambar (b). Pada kasus ini, gaya kohesi antara molekul-molekul zat cair BC lebih besar dibandingkan gaya adhesi antara molekul zat cair dan molekul zat padat BA. Akibatnya resultan gaya BR berarah ke kanan sehingga permukaan zat cair di B akan tertarik ke arah tegak lurus BR, membentuk gejala meniscus cembung. Ini terjadi pada raksa dan kaca.

Author: 

No Responses

Comments are closed.