Category Archives: Pendidikan

Fungsi Modul

Hasil penelitian terdahulu (Richard Duschl, 1993) menyatakan bahwa pembelajaran modul dalam pembelajaran konsep yang menyangkut kesetimbangan kimia dapat mengubah miskonsepsi siswa menuju konsep ilmiah. Di lain pihak, Santyasa, dkk (1995, 1996, 1997, 1998, 1999) menyatakan bahwa penerapan modul dapat mengubah miskonsepsi siswa menjadi konsepsi ilmiah dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diyakini bahwa pembelajaran bermodul secara efektif akan dapat mengubah konsepsi siswa menuju konsep ilmiah, sehingga pada gilirannya hasil belajar mereka dapat ditingkatkan seoptimal mungkin baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pembelajaran bermodul di yakini dapat mengatasi kelemahan sistem pengajaran tradisonal, meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kreatifitas pelatih dalam mempersiapkan pemebelajaran individual, mewujudkan prinsip maju berkelanjutan serta mewujudkan belajar yang berkonsentrasi.

Pembelajaran dengan penerapan modul akan memperoleh keuntungan diantaranya:

  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Siswa mencapai hasil sesuai dengan kemampuannya.
  4. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester
  5. Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.

Ciri Modul Pembelajaran yang baik

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa pada hakekatnya modul adalah buku pelajaran yang masih mempunyai keterbatasan baik dalam jangkauan penggunaannya maupun cakupan isinya. Modul umumnya disusun guru dan diedarkan kepada siswa, cakupan materi terbatas.

Mastercam X7

Modul umumnya di buat hanya untuk satu semester dan bertujuan untuk:

1) memperpendek waktu yang diperlukan oleh siswa untuk menguasai tugas pelajaran tersebut.

2) menyediakan waktu sebanyak yang diperlukan oleh siswa dalam batas-batas yang dimungkinkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang teratur.

Untuk modul sederhana, modul di tulis dalam 3-5 halaman untuk 1 – 2 jam pelajaran, sedangkan untuk modul kompleks modul di tulis dalam 40-60 halaman untuk 20 – 30 jam pelajaran.

Secara umum ciri-ciri modul adalah sebagai berikut:

  1. Didahului oleh pernyataan sasaran belajar
  2.  Pengetahuan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menggiring partisipasi siswa secara aktif.
  3. Memuat sistem penilaian berdasarkan penguasaan.
  4. Memuat semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran.
  5. Memberi peluang bagi perbedaan antar individu siswa
  6. Mengarah pada suatu tujuan belajar tuntas

Nilai praktis dari media pembelajaran Menurut Oemar Hamalik

Oemar Hamalik (1986:27-31) terdapat beberapa nilai praktis dari media pembelajaran, antara lain :

1) Media pembelajaran dapat melampaui batas pengalaman pribadi siswa. Pengalaman pribadi yang dimiliki oleh siswa berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan untuk melakukan perjalanan, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika siswa tidak mungkin dibawa ke obyek yang dipelajari secara langsung, maka obyeknyalah yang dibawa kepada siswa. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar–gambar yang dapat disajikan secara audio-visual dan audial

2) Media pembelajaran dapat melampaui batas-batas ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena:

  •  Obyek terlalu besar, tidak mungkin untuk dibawa ke ruangan kelasdan tak mungkin dialaimi secara langsung dapat diganti dengan gambar, foto, slide, film, radio, atau model.
  • Obyek terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, atau gambar.
  • Obyek yang bergerak terlalu lambat yang gerakannya sulit dilihat, dapat disajikan dengan film, video, slide, atau simulasi komputer sehingga gejala-gejalanya dapat diamati dan dipelajari..
  • Obyek yang bergerak terlalu cepat, sukar diamati dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto, slide sehingga dapat diperlambat dan dapat diamati.
  •  Obyek yang terlalu kompleks dapat disederhanakan. f
  • Obyek yang bunyinya terlalu halus.
  • Obyek mengandung bahaya dan resiko tinggi.
  • Dan lain-lain sehingga penggunaan media yang tepat, semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.

3) Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungannya.

4) Media pembelajaran memberikan uniformitas/keseragaman dalam pengamatan. Pengamatan para siswa terhadap sesuatu biasanya berbeda-beda tergantung pada perangsang dan pengalamannya masing-masing. Melalui media pembelajaran guru dapat memberikan persepsi yang sama terhadap sesuatu benda atau peristiwa tertentu kepada para siswa yang berada dalam satu kelas. Persepsi yang sama akan menimbulkan pengertian dan pengalaman yang sama pula.

5) Media pembelajaran akan memberikan pengertian/konsep yang sebenarnya secara relistis dan teliti. Dengan menggunakan media pembelajaran seperti: gambar, model, film, dan lain-lain, para siswa dapat diberi konsep yang benar, tepat dan lengkap, tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

6) Media pembelajaran membangkitkan keinginan dan minat-minat yang baru.

7) Media pembelajaran membangkitkan motivasi dan perangsang kegiatan belajar.

8) Media pembelajaran akan memberikan pengalaman yang menyeluruh. Pengalaman-pengalaman yang konkrit lambat laun menjadi/berintegrasi menjadi pengertian/kesimpulan-kesimpulan yang abstrak.

Nilai-nilai media pembelajaran

Penggunaan media pada proses pembelajaran digunakan untuk meningkatkan hasil belajar itu sendiri melelui peningkatan proses belajar siswa. Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002:2), terdapat dua alasan mengapa penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa, anatara lain :

  1.  Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pengajaran.
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidk hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain

Alasan kedua penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan prosses belajar siswa dan hasil pembelajaran adalah berkenaan dengan taraf berfikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berfikir konkrit menuju ke berfikir abstrak, dimulai dari berfikir sederhana menuju ke berfikir kompleks.

kerucut-pengalaman-edgar-dale

Kerucut Pengalaman Edgar Dale

Menurut Encyclopedia of Educational Research, sebagaimana dikutip dalam Oemar Hamalik (1986:27) memaparkan beberapa nilai atau manfaat dari media pendidikan/media pebelajaran sebagai berikut:

  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir dan oleh karena itu mengurangi “verbalisme”.
  2. Memperbesar perhatian para siswa.
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar dan oleh karena itu membuat pelajaran lebih menetap.
  4. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
  5.  Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, hal ini terutama terdapat di dalam gambar hidup.
  6. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian mambantu perkembangan kemampuan berbahasa.
  7. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar

Pembelajaran Konstruktivisme

Belajar adalah perubahan berkaitan dengan pengaturan prilaku peserta didik atau kemampuan dalam rentang waktu tertentu dari suatu periode. Perubahan prilaku sebagai hasil belajar sering disebut dengan bukti belajar atau learning exhibits yang merupakan akibat proses interaksi antara peserta didik dengan guru, dan dengan peserta didik lainnya maupun dengan lingkungan serta objek yang dipelajarinya. Perubahan kemampuan atau prilaku (behavior) sebagai hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan, tentu tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi diperlukan perancangan pengalaman belajar yang disengaja dan sistematis, yang memungkinkan perubahan prilaku dalam perkembangan berfikir peserta didik mencapai gradasi perkembangan sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran. Untuk itu guru sebagai perancang pembelajaran memegang peranan strategis dalam mengantarkan peserta didik melalui pengalaman belajar yang dirancangnya mencapai gradasi kemampuan tertentu.

pembelajaran-konstruktivisme

Untuk merancang pengalaman belajar peserta didik pada kurikulum 2013 atau juga sering diistilahkan dengan Kurnas, anda diajak terlebih dahulu mengingat kembali salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan yakni pembelajaran berpendekatan konstruksivisme.

Pembelajaran pendekatan konstruktivisme yang dimaksud adalah pembelajaran yang menjadikanseseorang secara aktif membangun pengetahuan dan pemahaman dengan mensintesiskan pengetahuan yang telah dimilikinya menjadi pengetahuan baru. Pendekatan pembelajaran konstruktivisme ini ,sesuai denganteori kerja Jean Piaget dalam Alan Pritchard (2010 : 5 ) “ his work led to the expansion of understanding of child development and learning as a proces of construction that has underpinned much of the theory relating to social constructivism”.Berdasarkan teori belajar konstruktivisme, pembelajaran berupaya membelajarkan peserta didik untuk mengkonstruksi pemahaman mereka dari dunia sekelilingnya berdasarkan pengalaman, dimana mereka hidup dan tumbuh. Mereka selanjutnya memilih dan mentransformasi informasi dari pengetahuan yang lalu.Saat inijuga pengalaman menjadi pengetahuan dan pemahaman peserta didikyang baru. Pada tabel 1 di bawah ini dapat dilihat perbandingan antara kognitivisme dan konstruksivisme menurut Anne Jordan; Orison Carlile dan Annetta Stack pada Approaches to learning (2008:55). Tabel 2. 1 Perbandingan antara Kognit

kekurangan dan kelebihan metode demonstrasi

Metode ini implikasi dari teori belajar humanistik Carl Rogers, dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Menurut Rogers, ada dua tipe dalam belajar yaitu kognitif (kebermaknaan) dan experiental (pengalaman). Bagamaina seorang guru bisa menghubungkan suatu pengetahuan akademik dalam kehidupan sehari-hari. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup: keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.

metode-demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung. Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.

Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya, sebagai berikut:

1. kelebihan metode demonstrasi

(a) dapat membuat pembelajaran menjadi jelas dan lebih konkret, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat)

(b) kesalahan-kesalahan yang terjadi apabila pelajaran itu diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh yang konkret.

(c) siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari

(d) perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran yang diberikan.

(e) siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.

2. kekurangan metode demonstrasi

(a) metode ini memerlukan keterampilan khusus guru, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif.

(b) fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.

(c) demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang.

(d) apabila alatnya terlalu kecil atau penempatannya kurang tepat, demonstrasi tidak dapat dilihat jelas oleh seluruh siswa

Definisi prestasi belajar

Menurut Hamdani, 2011:137 prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu.

Menurut Hamzah B. Uno, 2011:16 prestasi belajar adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda. Prestasi belajar biasanya berupa hasil nyata (actual outcomes) dan hasil yang diinginkan (desired outcomes). Actual outcomes adalah hasil yang nyata dicapai dari penggunaan suatu metode di bawah kondisi tertentu. Adapun desired outcomes, yakni tujuan yang ingin dicapai, yang sering mempengaruhi keputusan perancang pembelajaran dalam melakukan pilihan metode yang sebaiknya digunakan.

Menurut Agus Suprijono, 2012:7 prestasi belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran tersebut tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprehensif. Setelah menelusuri uraian di atas, dapat dipahami mengenai makna kata prestasi dan belajar. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas. Adapun belajar pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu, yaitu perubahan tingkah laku

definisi-prestasi-belajar

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak, dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau rapor setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tinggi-rendahnya prestasi belajar siswa Prestasi belajar las busur listrik dinilai dari kualitas sambungan las yang dihasilkan kemudian diukur dengan menggunakan instrumen penilaian. Dasar instrumen penilaian yang dipakai adalah silabus

Komponen-komponen pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang berkaitan. Menurut Heri Rahyubi, 2012:234 komponen pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, kurikulum, guru, siswa, metode, materi, alat pembelajaran (media), dan evaluasi.

komponen-pembelajaran

1) tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran adalah target atau hal-hal yang harus dicapai dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran biasanya berkaitan dengan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan pembelajaran bisa tercapai jika pembelajar atau peserta didik mampu menguasai dimensi kognitif dan afektif dengan baik, serta cekatan dan terampil dalam aspek psikomotoriknya. Selain itu, tujuan pembelajaran akan tercapai jika pembelajar atau peserta didik mampu mengekspresikan dan menampilkan bakat serta potensinya secara optimal.

2) kurikulum.

Secara terminologis, istilah kurikulum mengandung arti sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan atau ijazah. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau bidang studi dan aktivitas belajar siswa tetapi juga segala sesuatu yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Misalnya: fasilitas sekolah, lingkungan yang aman, suasana keakraban dalam proses belajar mengajar, media, dan sumber-sumber belajar yang memadai. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan perkembangan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.

3) guru.

Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga berarti pendidik, yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memfasilitasi, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru merupakan satu diantara pembentuk- pembentuk utama calon warga masyarakat. Peranan guru tidak terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4) siswa.

Siswa atau peserta didik adalah seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru, pelatih, dan instruktur. Siswa jangan selalu dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa, melainkan subjek pendidikan yang punya pengetahuan, kelebihan, dan potensi tertentu. Siswa memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda.

5) metode.

Metode pembelajaran adalah suatu model dan cara yang dapat dilakukan untuk menggelar aktivitas belajar mengajar agar berjalan dengan baik. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar merupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.

Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pemilihan Media Pembelajaran

Ketika menggunakan atau membuat media pembelajaran, hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah memilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran yaitu:

manfaat-media-pembelajaran-bagi-guru-dan-siswa

  1. Sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran.
  3. Praktis, luwes, dan bertahan.
  4. Guru terampil menggunakannya.
  5. Pengelompokkan sasaran.
  6. Mutu teknis

Menurut Nana Sudjana (2002: 4-5), dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria sebagai berikut.

  1. Ketepatan dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih berdasarkan tujuan intruksional pembelajaran yang telah ditetapkan.
  2. Dukungan terhadap isi bahan pengajaran; artinya media yang digunakan harus mampu memberikan bahan pengajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi.
  3. Kemudahan memperoleh media; artinya media yang dipergunakan mudah diperoleh yaitu media pembelajaran mudah dibuat oleh pengajar, tidak memerlukan waktu dan biaya yang banyak dalam proses pembuatannya.
  4. Keterampilan guru dalam menggunakannya; ini merupakan faktor penting dalam proses pemanfaatan media pembelajaran, karena dengan adanya keterampilan seorang guru dalam menggunakan media pembelajaran, maka proses pembelajaran akan berjalan lancar dan efektif.
  5. Tersedia waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
  6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa; dalam memilih media harus memperhatikan kesesuaian media yang digunakan terhadap pengguna media, dalam hal ini media harus sesuai dengan pola berfikir dan tingkat berfikir siswa, agar dapat menarik minat dan mudah untuk dimengerti.