Category Archives: K3

Pakaian keselamatan kerja

Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja yaitu kepala dan wajah, mata, telinga, tangan, badan dan kaki. Untuk itu, penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting, umumnya berupa:

✔ Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection)
✔ Pelindung mata (Eyes protection)
✔ Pelindung telinga (Hearing protection)
✔ Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection)
✔ Pelindung tangan (Hand protection)
✔ Pelindung kaki (Foot protection)

penyebab kecelakaan di tempat kerja

 
 
Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut :
  1. Kelelahan (fatigue).
  2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition).
  3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training.
  4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
  5. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan ”pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud.
Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengaruhi produktivitas kerja.

Pemeriksaan kerja work equipment

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan kemampuan kerja dari sistem hidrolik pada alat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengoperasikan alat dalam melakukan standar kerja work equipment. Pada alat berat mempunyai banyak sekali jenis work equipment yang ada. Sebagai contoh, pemeriksaan work equipment pada hydraulic Excavator (PC200-7) :
1.Backhoe work

Backhoe work dapat dipergunakan untuk pekerjaan ekskavasi dengan posisi lebih rendah dari alat. Saat
excavating gunakan sudut seperti pada gambar secara efektif untuk mengoptimalkan efisiensi kerja. Range ekskavasi dengan arm dari 45°jauh dari alat sampai 30°terhadap alat.

2.Shovel work
Merupakan kegiatan ekskavasi pada posisi lebih tinggi dari alat. Shovel work dilakukan dengan pemasangan bucket kearah berlawanan.

3. Ditching work
Merupakan pekerjaan penggalian parit dapat dilakukan secara efisien dengan memasang bucket sesuai dengan lebar parit kemudian atur track pararel dengan parit yang akan digali.

4. Loading work
Pekerjaan loading merupakan pekerjaan pemindahan barang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan berbagai posisi. Namun untuk efisisen kerja loading work dikerjakan dengan posisi alat dibelakang truk.

Jika dalam kerja equipment work terjadi ketidak-normalan maka segera lakukan pengecekan dan perbaikan pada komponen hidrolik. Seperti pada; pompa, katup kontrol, hose, cylinder dan komponen hidrolis yang lain.

Keselamatan kerja las oksi-asetilen

Keselamatan kerja untuk pengelasan las oksi-asetilen adalah sebagai berikut:

  1. Jangan gunakan gas asetilen pada tekanan di atas 15 psi.
  2. Jangan gunakan peralatan yang rusak (damage).
  3. Jangan gunakan minyak (oil) atau gemuk (grease) pada atau disekitar peralatan oksigen.
  4. Jangan gunakan oksigen atau gas untuk menghembus kotoran atau debu pada pakaian kerja (clothing) atau peralatan (equipment).
  5.  Jangan gunakan korek api untuk menghidupkan brander, selalu memakai korek api las.
  6. Ketika membuka katup silinder atau oksigen, selalu celah (crack) buka pertama.
  7. Selalu pastikan regulator mempunyai mur pengatur dengan memutarnya berlawanan arah jarum jam sampai bebas sebelum katup silinder terbuka. Berdiri pada sisi sebuah regulator, jangan di depannya ketika membuka katup silinder.
  8. Selalu pakai kaca mata (goggle) dengan baik, sarung tangan (gloves), pakaian kerja ketika bekerja dengan peralatan oksi-asetilen.
  9. Selalu memakai sebuah tabung pemadam api tangan (fireextinguisher handy) ketika bekerja dengan peralatan oksiasetilen.
  10. Selalu menaruh kembali tutup (cap) silinder ketika telah selesai memakai silinder. Jangan percaya pada warna silinder untuk mengidentifikasi isinya, karena beberapa penyalur (supplier) menggunakan kode-kode warna yang berbeda.
  11. Selalu memakai regulator yang baik untuk dalam silinder.
  12. Selalu memakai silinder hanya dalam posisi tegak lurus.
  13. Jangan menyimpan silinder pada temperatur di atas 1300 F.
  14. Selalu menjaga katup pembuka (the valve wrench) pada katup silinder asetilen ketika menggunakan. Katup hanya terbuka maksimum 1,5 putaran.
  15. Jangan membawa geretan (lighter), korek api (matches), atau obyek lain yang mudah terbakar dalam saku (pocket) ketika pengelasan atau pemotongan.
  16. Selalu hati-hati dari sekeliling anda ketika memakai brander.
  17. Hati-hati tidak membiarkan selang terjadi kontak dengan nyala brander atau nyala api (spark) dari pemotongan.

Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi

Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. 
Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis: 
1. Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran. 
2. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan. 
3. Ventilasi penurunan panas: perlakuan udara dengan pengendalian suhu, kelembaban, kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja 
Maksud dibuatnya sistem ventilasi 
1. Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan.
2. Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL).
3. Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas.
4. Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja. 
5. Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi, peledakan, kebakaran, hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan, dan sebagainya.

http://www.teknikmesin.net/atom.xml?redirect=false&start-index=1&max-results=100

Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise)

Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. Risiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. Dan jika risiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/”diobati”). Sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan. 
Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu: 
1. Dampak auditorial (Auditory effects) 
2. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran, seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran, suara dering/ berfrekuensi tinggi dalam telinga. 
3. Dampak nonauditorial (Nonauditory effects) 
4. Dampak ini bersifat psikologis, seperti gangguan cara berkomunikasi, kebingungan, stres, dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. 
Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 
1. Percakapan biasa (45-60 dB) 
2. Bor listrik (88-98 dB) 
3. Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) 
4. Gergaji mesin (110-115 dB) 
5. Musik rock (metal) (115 dB) 
6. Sirene ambulans (120 dB) 
7. Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) 
8. Pesawat terbang jet (140 dB). 
Sedangkan jenis industri, tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 
1. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 
2. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 
3. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam.
http://www.teknikmesin.net/atom.xml?redirect=false&start-index=1&max-results=100

Faktor-faktor keamanan mesin bubut

Mesin dapat menjadi sangat berbahaya jika tidak dilakukan sesuai dengan prosedur, meskipun dia dilengkapi dengan berbagai macam alat keamanan. Berikut ini adalah beberapa regulasi keamanan yang perlu diperhatikan selama operasi mesin bubut.

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama mengoperasikan mesin bubut: 

  1. Jangan mencoba mengoperasikan mesin jika belum mengerti benar akan prosedur pengoperasian mesin.
  2. Jangan menggunakan pakaian yang kedodoran, cincin, jam tangan jika mengoperasikan mesin.
  3. Selalu menghentikan mesin sebelum melakukan pengukuran
  4. Selalu menggunakan sikat baja untuk membersihkan gram. 
  5.  Sebelum memasang atau melepaskan kelengkapan mesin, yakinlah bahwa arus listrik sudah dimatikan.
  6. Jangan membuat goresan yang dalam pada benda kerja. Hal ini akan membuat lendutan/momen pada benda kerja.
http://www.teknikmesin.net/atom.xml?redirect=false&start-index=1&max-results=100

Penerapan K3 Bidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan

Berdasarkan Undang-Undang Uap Tahun 1930 pasal 12, pesawat uap harus dilengkapi dengan alat pengaman yang disesuaikan dengan penggolongan ketel uapnya.Dengan adanya alat pengaman,maka pesawat ketel uap yang dioperasikan akan amanbagi operator maupun lingkungannya.
Perlengkapan ketel uap seperti yang disyaratkan dalam Undang Undang Uap terdiri dari:
  1. Katup Pengaman (Safety Valve) Alat ini berfungsi untuk menyalurkan tekanan yang melebihi kapasitas tekanan ketel. Apabila tidak ada katu pengaman, ketel  dapat meledak karena adanyanya tekanan lebih yang tidak mampu ditahan ketel.
  2. Manometer (Pressure Gauge) Alat ini berfungsi untuk mengetahui tekanan yang ada dalam ketel uap dan tekanan kerja yang diijinkan dari ketel      uap harus dinyatakan dengan garis merah.
  3. Gelas Praduga (Water Level) Alat ini berfungsi untuk mengetahui kedudukan permukaan air dalam ketel uap.
  4. Suling Tanda bahayaAlat ini berfungsi untuk memberi isyarat suara apabila air di dalam ketel melampaui batas terendah yang ditentukan.
  5. Keran Pembuang (Blow Down)Alat ini berfungsi untuk mengeluarkan kotoran berupa lumpur, lemak, dan kotoran lain dari dala ketel. Yang perlu diperhatikan adalah pada waktu membuka keran ini, ketel pada kondisi tekanan dan suhu yang sudah rendah serta pembukaan dilakukan secara perlahan-lahan.
  6. Lubang PembersihLubang pembersih berguna bagi petugas pemeriksa/pembersih ketel uap dalam membersihkan atau mengeluarkan kotorankotoran dari dalam ketel.




Prosedur Penerapan K3




Setelah mengetahui peraturan perundangan tentang K3,yang tak kalah penting adalah menerapkan prosedur K3 ditempat kerja.Bidang pekerjaan maupun tempat kerja bermacam-macam, oleh karena itu masing-masing bidang pekerjaan memerlukan prosedur penerapan K3 yang berbeda.Namun demikian terdapat beberapa prinsip dasar penerapan K3 yang berlaku secara umum. Salah satu aspek yang perlu diketahui adalah pengetahuan tentang alat-alat pelindung diri.Pemakaian alat pelindung diri atau pekerja perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaannya.Misalnya alat pelindung kepala bagi pekerja proyek bangunan dengan operator mesin bubut akan lain, demikian juga kaca mata bagi opertor mesin bubut tentu lain dengan kaca mata bagi operator las.
Secara umum,berbagai alat pelindung diri bagi pekerja meliputi:
a. Alat pelindung kepala (berbagai macam topi, helm)
b. Alat pelindung muka dan mata (berbagai jenis kaca mata)
c. Alat pelindung telinga (berbagai macam tutup telinga)
d. Alat pelindung hidung (berbagai macam masker)
e. Alat pelindung kaki (berbagai macam sepatu)
f. Alat pelindung tangan (berbagai macam sarung tangan)
g. Alat pelindung badan (apron, wearpack, baju kerja)
Biasanya tiap perusahaan/industri mempunyai model, warna pakaian kerja, serta alat pelindung diri lain yang sudah ditentukan oleh masing-masing perusahaan.Seorang pekerja tinggal mengikuti peraturan pemakaian pakaian kerja serta alat pelindung diri yang sudah ditentukan perusahaan.
 Perlu mendapatkan penekanan adalah kesadaran dan kedisiplinan pekerja untuk memakai pakaian dan alat-alat peindung diri tersebut.Kadang-kadang pekerja enggan memakai alat pelindung diri karena merasa kurang nyaman atau tidak bebas.Hal ini dapat berakibat fatal.Pekerja tidak menyadari akibat atau dampak yang terjadi apabila terjadi kecelakaan kerja.Contoh sederhana adalah pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor,mereka memakai helm apabila ada polisi saja.Padahal pemakaian helm adalah demi keselamatan mereka sendiri




Peraturan Perundangan K3

Terdapat banyak peraturan perundangan yang terkait dengan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan perundangan tersebut berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Menteri serta Surat Edaran
Menteri. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam menangani K3.Salah satu Undang-Undang yang terkait dengan K3 adalah Undang67Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.Undang-undang ini merupakan pengganti undang-undang tentang K3 pada masa pemerintahan Belanda, yaitu Veiligheids Reglement Tahun 1910 (VR 1910 Stbl. 406). UU No. 1 Th. 1970 terdiri dari 11 Bab dan 18 Pasal, dan mulai berlaku sejak 12 Januari 1970.




Undang-Undang lain yang terkait dengan K3 adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.Undang-undangini terdiri dari 28 bab dan 193 Pasal, dan mulai berlaku sejak 25 Maret 2003.Walaupun Undang-undang ini banyak mengatur tentang ketenaga kerjaan,namun disinggung juga tentang K3, terutama pada Bab X yang berisi tentang Perlindungan, Pengupahan, dan Kesejahteraan.Terkait dengan K3 di bidang pesawat uap dan bejana tekan, terdapat Undang-Undang Uap Tahun 1930(Stoom Ordonantie 1930).
Selain Undang-Undang, terdapat beberapa peraturan yang merupakan penjabaran atau pelaksanaan dari Undang-undang tentang K3.Beberapa peraturan yang terkait dengan K3 di bidang industri yang perlu diketahui antara lain:
  1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-03/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja.
  2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER-01/MEN/1982 tentang Bejana Tekan
  3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-04.MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Tata Cara Penunjukan,Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-02.MEN/1992 Cara Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-04/MEN/1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP. 13/MEN/1984 Tentang Pola Kampanye Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja