Category Archives: Fabrikasi

Hal- hal lain yang harus diperhatikan dalam proses pengeboran

Hal- hal lain yang harus diperhatikan dalam proses pengeboftrn yaitu :

  1.  Kecepatan spindle yang diteruskan pada cak atau sarung bor harus sesuai dengan kondisi dalam proses pengeboran. Cara untuk mengatur kecepatan spindle mesin bor dapat dilakukan dengan menggerakkan klem penyetel ban sehingga dapat memindahkan v – belt ke cakra tingkat sesuai putaran yang diinginkan
  2.  Bagian permukaan yang akan dibor harus diberi tanda dengan cara penitikan atau dengan menggunakan bor centre agar memudahkan jalan pengeboran selanjutnya.
  3. Sebelum melakukan proses pengeboran, lakukan pengaturan posisi kerataan dari benda kerja menjadi titik acuan karena bila pemukaan benda kerja tidak rat4 efek yang ditimbulkan sangat fatal yaitu lubang menjadi tidak lurus, oleh karena itu kita bisa menggunakan alat pengukur diaal indikator sehingga hasil pengeborannya benar – benar tegak lurus.
  4. Saat proses pengeboran berlangsung lakukanlah pemberian cairan pendingin
  5. Saat proses pengeboran diperlukan adanya peralatan pendukung salah satunya adalah ragum mesin bor. Alat ini berfungsi mencekam bagian tertentu dari bahan yang akan dibor sesuai dengan tingkat kesulitan proses pengeboran. Jenis ragum yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaannya

Mesin Bor Tangan

Mesin bor tangan terutama digunakan untuk pekerjaanpekerjaan ringan, seperti pembuatan lubang dengan diameter kecil atau sedang, kurang dari 13 milimeter, dan benda kerjannya telah terpasang pada kedudukannya yang tidak mungkin akan dibuka kembali.

mesin-bor-tangan

Mesin bor yang biasa digunakan dalam bengkel kerja bangku dan kerja mesin biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu mesin bor tangan yang digerakkan oleh tangan dan mesin bor listrik yang digerakkan oleh tenaga listrik

Mesin bor tangan yang digerakkan oleh tangan sangat terbatas pengguruulnnya, karena hanya dapat melakukan pengeboran sampai dengan ukuran 8 milimeter. Sedangkan mesin bor tangan yang digerakkan oleh listrik dapat digunakan untuk membuat lubang sampai dengan ukuran 13 milimeter

Kedua mesin bor tangan tersebut diatas yang paling sering digunakan untuk mengebor adalah mesin bor tangan yang digerakkan dengan menggunakan tenaga listrik.

Hal – hal yang menjadi pertimbangan pemilihan elektroda

ddd

Menurut klasifikasi yang dibuat oleh AWS ( American Welding Society ), semua elektroda terbungkus pada proses pengelasan SMAW untuk baja” baja paduan rendah, baja tahan karat, dan baja lainnya ditandai dengan huruf ” E ” yang artinya elektroda.

a. Elek Troda Terbungkus Untuk Baja Lunak Dan Baja Paduan Rendah

b. Elektroda terbungkus untuk Stainless Steel

Contoh: EXXX(X)ZIY

1. “8” artinyaelek troda terbungkus.

2. Tiga atau keempat angka menunjukan komposisi specific dari stainlees steel

3. Huruf yang menunjukan modifikasi komposisi kimia yang lebih spesifit

seperti :

L —+ Low carbon

Mo —+ Molibdenum

MoL —+ Low Carbon danmolibfunum

Cb –, Columbium

4. Angka terakhir ini menunjukan bahwa kemampuan posisi pengelasan dan polaritas.

15—+ DCEP

l6 —+ DCEP atau AC

17 —+ DCEP atau AC

Hal – hal yang menjadi pertimbangan pemilihan elektroda :

1) Sifat kekuatan logam dasar.

2) Komposisi logam dasar.

3) Posisi pengelasan.

4) Arus listrik las.

5) Bentuk dan macam sambungan.

6) Ketebalan dan bentuk logam dasar.

7) Keadaan di sekitar pekerjaan.

8) Efisiensi produksi syarat – syarat pekerjaan.

Jenis-Jenis Water Wheels (kincir air)

Kincir Air (Water Wheel) secara luas diklasifikasikan menjadi 3 kelompok berdasarkan tenaga penggerak (driving action) dari air, yaitu :

  1. Kincir yang digerakkan dengan berat air yg disuplai
  2. Kincir yang digerakkan sebagian dengan berat air & sebagian dengan impuls dari air
  3. Kincir yang digerakkan seluruhnya dengan impuls dari air

Secara praktis, kincir air terdiri dari central hub dan circular wheel yang mempunyai sejumlah bucket atau sudu yg diletakkan pada keliling wheel.

Air dialirkan ke wheel pada beberapa titik / lokasi pada kelilingnya yang akan mengisi bucket atau menumbuk sudu.

water-wheels

Berikut adalah tipe-tipe wheel yang sudah sering digunakan :

  1. Overshot Wheel
  2. Breast Wheel
  3. Undershot Wheel

Keuntungan dan kelemahan las busur listrik

Las busur listrik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah las elektroda terbungkus (SMAW). Dalam proses pengelasan ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah yaitu berupa kawat elektroda logam yang dibungkus dengan fluks. Kawat logam berfungsi sebagai penghantar arus listrik ke busur dan sekaligus sebagai bahan pengisi (filler). Selama pengelasan, fluks mencair dan membentuk terak (slag) yang berfungsi sebagai lapisan logam las terhadap udara sekitarnya

smaw_mma

Keuntungan las SMAW :

1) selaput pembungkus elektroda mempunyai fungsi serbaguna dan banyak jenisnya kurang lebih ada 100 tipe untuk pengelasan bahan yang berbeda.

2) sumber tenaga dari SMAW (AC maupun DC) dapat ditancapkan di dinding atau dapat dijalankan disetiap tempat sepanjang terdapat bahan bakar.

3) pengelasan dapat dilakukan pada berbagai posisi mulai dari posisi flat, mendatar, tegak dan di atas kepala.

4) sensitivitasnya terhadap gangguan pengelasan berupa angin cukup baik

5) sumber tenaga dan juga perawatan mesin SMAW lumayan murah. Selain itu mesin SMAW sangat awet, relatif mudah dioperasikan dan mudah di setting.

Kekurangan las SMAW:

1) uap lembab di udara dapat masuk ke dalam elektroda.

2) terak yang dihasilkan ketika selaput elektroda mencair harus selalu dibersihkan setiap kali selesai mengelas.

3) operator harus berhenti dan mengganti elektroda setiap beberapa menit, ketika setiap menit busur listrik tidak dinyalakan untuk mengelas, itu menyebabkan ongkos tenaga kerja tidak produktif.

Pengaruh Posisi Proses Las Terhadap Keterampilan Juru Las

Sebagaian besar pekerjaan las dilakukan dengan proses LSW (Liquid state welding) atau proses las dalam kondisi cair. Proses las yang dilakukan dengan kondisi cair ini, posisi saat pengelasan berlangsung sangat berpengaruh terhadap bentuk deposit logam las yang terbentuk. Tidak semua juru las mahir di semua posisi, posisi di bawah tangan (down hand) merupakan posisi yang paling mudah untuk dilakukan, namun  ketika mengelas pipa logam dengan posisi miring akan sangat sulit dilakukan. Juru las yang dapat melakukan pengelasan ini adalah juru las kelas satu yang dilengkapi dengan sertifikat standar internasional.

sambungan-las-pada-pipa

Dalam dunia industri posisi las diberi kode tertentu agar pada saat pengelasan dilakukan tidak terjadi kekeliruan menentukan juru las dan prosedur pengelasan. Ada dua sistim pengkodean yang banyak dikenal, yaitu sistim yang ditetapkan oleh American Welding Society (AWS) dan sistim International Standard Organisation (ISO).

Berdasarkan kode yang ditetapkan oleh AWS, posisi las dikaitkan pada jenis teknik sambungan las, jika sambungan berkampuh (groove) maka kode posisinya dengan huruf G, untuk posisi down-hand 1G, horisontal 2G, vertikal 3G, over-head 4G, pipa dengan sumbu horisontal 5G, dan pipa miring 45° 6G. Jika sambungan las tidak berkampuh/tumpul (fillet) maka kodenya adalah F, untuk posisi down-hand 1F, horisontal 2F, vertikal 3F, dan over-head 4F.

Sistim kode posisi las yang ditetapkan ISO berbeda dengan AWS. Kode posisi las menurut ISO didasarkan pada posisi elektroda saat pengelasan dilakukan, untuk pengelasan plat diberi kode PA, PB, PC, PD, dan PE, sedangkan pengelasan pipa naik PF dan pipa turun PG, lihat Gambar 8 dan 9.

Beberapa Variabel yang Berkaitan dengan Pekerjaan Las

enyambungan logam dengan proses pengelasan tidak dapat dilakukan sembarangan, banyak variabel yang harus diperhatikan agar kualitas sambungan sesuai standar yang dipersyaratkan oleh suatu lembaga internasional yang berkaitan dengan pekerjaan las. Variabel tersebut adalah bahan, proses, metode, keselamatan dan kesehatan kerja, peralatan, sumber daya manusia, lingkungan, serta pemeriksaan kualitas sambungan las. Lihat Gambar

Variabel yang Berpengaruh pada Pengelasan

Dalam proses pengelasan logam, bahan yang akan disambung harus diidentifikasi dengan baik. Dengan dikenalinya bahan yang akan dilas, dapat ditentukan prosedur pengelasan yang benar, pemilihan juru las yang sesuai, serta pemilihan mesin dan alat yang tepat

Metode pengelasan logam yang meliputi prosedur pengelasan, prosedur perlakuan panas, desain sambungan, serta teknik pengelasan disesuaikan dengan jenis bahan, peralatan, serta posisi pengelasan saat sambungan las dibuat. Aspek efektifitas, efisiensi proses, dan pertimbangan ekonomis berkaitan erat dengan pemilihan peralatan las. Pengelasan logam stainless steel akan berkualitas bagus jika menggunakan las TIG, namun akan lebih murah bila ddilas dengan las listrik, sehingga pemilihan mesin dan peralatan las sebaiknya disesuaikan dengan tujuan pengelasan serta biaya operasionalnya.

Dalam pelaksanaan pekerjaan las dibutuhkan Sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi sesuai standar yang ada. Kualifikasi harus mengikuti standar-standar internasional seperti International Institut of Welding (IIW), American Welding Society (AWS), dan masih banyak lembaga-lembaga international di bidang pengelasan logam yang lain. Berdasarkan standar International Institut of Welding (IIW), profesi las terdiri dari Welding Engineer (WE), Welding Technologist (WT), Welding Practitioneer (WP), serta Welder (W).

Profesi Welding Engineer mempunyai tugas untuk menentukan prosedur pengelasan dan prosedur pengujian. Seorang Welding Technologist bertugas untuk menterjemahkan prosedur-prosedur tersebut kepada profesi las yang mempunyai level di bawahnya. Untuk melatih juru las (Welder) dibutuhkan seorang Welding Practititoneer dan yang melakukan pengelasan adalah Welder (juru las).

Lingkungan pada waktu pengelasan dilakukan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas las. Pengelasan yang dilaksanakan pada kondisi lingkungan sangat ekstrim, diperlukan prosedur khusus agar kualitas sambungan terjamin dengan baik. Pengelasan kapal yang terpaksa dilakukan di dalam air memerlukan mesin las yang dilengkapi dengan satu unit peralatan yang dapat melindungi elektroda dari sentuhan air. Disamping itu juga dibutuhkan Welder yang sesuai dengan pekerjaan tersebut, pengelasan dalam air cukup sulit dilakukan karena adanya tekanan gas pelindung terhadap dinding kapal.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan pengelasan. Seorang juru las tidak dapat bekerja dengan baik jika dia tidak menggunakan pakaian dan peralatan keamanan kerja yang pada gilirannya sambungan las yang dihasilkan akan berkualitas tidak baik. Disamping itu jika peralatan K3 kurang memadahi apabila terjadi kecelakaan tidak dapat diantisipasi secara tepat dan cepat. Sambungan las yang telah dibuat harus diperiksa agar dapat diketahui kualitasnya. Sambungan las harus dibongkar jika terjadi cacat-cacat yang melampaui batas yang dipersyaratkan. Pemeriksaan dilakukan oleh seorang Welding Inspector (WI). Pemeriksaan las menggunakan uji visual, sinar-X, Ultrasonic, serta masih banyak metode lainnya.

Prinsip Kerja Las Listrik

Pengelasan merupakan penyambungan dua bahan atau lebih yang didasarkan pada prinsip-prinsip proses difusi, sehingga terjadi penyatuan bagian bahan yang disambung. Kelebihan sambungan las adalah konstruksi ringan, dapat menahan kekuatan yang tinggi, mudah pelaksanaannya, serta cukup ekonomis. Namun kelemahan yang paling utama adalah terjadinya perubahan struktur mikro bahan yang dilas, sehingga terjadi perubahan sifat fisik maupun mekanis dari bahan yang dilas.

Prinsip Kerja Las Listrik

Perkembangan teknologi pengelasan logam memberikan kemudahan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya. Saat ini kemajuan ilmu pengethuan di bidang elektronik melalui penelitian yang melihat karakteristik atom, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap penemuan material baru dan sekaligus bagaimanakah menyambungnya.

Jauh sebelumnya, penyambungan logam dilakukan dengan memanasi dua buah logam dan menyatukannya secara bersama. Logam yang menyatu tersebut dikenal dengan istilah fusion. Las listrik merupakan salah satu yang menggunakan prinsip tersebut. Pada zaman sekarang pemanasan logam yang akan disambung berasal dari pembakaran gas atau arus listrik. Beberapa gas dapat digunakan, tetapi yang sangat popular adalah gas Acetylene yang lebih dikenal dengan gas Karbit. Selama pengelasan, gas Acetylene dicampur dengan gas Oksigen murni. Kombinasi campuran gas tersebut memproduksi panas yang paling tinggi diantara campuran gas lain.

Cara lain yang paling utama digunakan untuk memanasi logam yang dilas adalah arus listrik. Arus listrik dibangkitkan oleh generator dan dialirkan melalui kabel ke sebuah alat yang menjepit elektroda diujungnya, yaitu suatu logam batangan yang dapat menghantarkan listrik dengan baik. Ketika arus listrik dialirkan, elektroda disentuhkan ke benda kerja dan kemudian ditarik ke belakang sedikit, arus listrik tetap mengalir melalui celah sempit antara ujung elektroda dengan benda kerja. Arus yang mengalir ini dinamakan busur (arc) yang dapat mencairkan logam.

Terkadang dua logam yang disambung dapat menyatu secara langsung, namun terkadang masih diperlukan bahan tambahan lain agar deposit logam lasan terbentuk dengan baik, bahan tersebut disebut bahan tambah (filler metal). Filler metal biasanya berbentuk batangan, sehingga biasa dinamakan welding rod (Elektroda las). Pada proses las, welding rod dibenamkan ke dalam cairan logam yang tertampung dalam suatu cekungan yang disebut welding pool dan secara bersama-sama membentuk deposit logam lasan, cara seperti ini dinamakan Las Listrik atau SMAW (Shielded metal Arch welding),

Terminologi Pengelasan

Beberapa istilah dalam pengelasan yang sering dijumpai, yaitu

1. Dilusi

Dilusi merupakan perbandingan antara logam induk yang mencair dengan logam las. Dilusi dapat diperoleh dengan membandingkan luas penampang logam induk yang mencair dengan luas penampang logam las.

2. Elektroda

Kutub listrik terbagi menjadi dua yaitu anoda yang bermuatan positif dan katoda yang bermuatan negatif. Istilah ini biasanya ada dalam pengelasan yang melibatkan listrik, misalnya SMAW. Dalam SMAW, elektroda juga berperan sebagai kawat las yang menyuplai logam las.

3. HAZ (Heat Affected Zone)

HAZ merupakan daerah terpengaruh panas dan mengalami perubahab struktur mikro, dan terletak pada logam induk di kiri-kanan logam las.

4. Kampuh

Las Kampuh las merupakan bagian dari logam induk yang nantinya akan diisi oleh deposit las atau logam las (weld metal). Kampuh las awalnya berupa kubangan las (weld pool) yang kemudian diisi dengan logam las.

5. Logam Induk

Logam induk merupakan logam yang akan dilas.

6. Logam Las

Logam las merupakan campuran dari logam induk dan logam pengisi yang mencair dan kemudian membeku.

7. Logam Pengisi

Logam pengisi merupakan logam yang ditambahkan dari luar untuk mengisi kampuh.

8. Manik Las

Manik las merupakan bagian dari logam las yang dilihat dari atas pelat

9. Penetrasi

Penetrasi merupakan kedalaman penembusan logam las dalam logam induk.

10. Polaritas Balik

Polaritas balik merupakan istilah pengkutuban listrik pada pengelasan busur listrik dimana kutub positif dihubungkan ke elektroda dan kutub negatif dihubungkan ke logam induk.

11. Polaritas Lurus

Polaritas lurus merupakan istilah pengkutuban listrik pada pengelasan busur listrik dimana kutub positif dihubungkan ke logam induk dan kutub negatif dihubungkan ke elektroda.

12. Sambungan Las

Sambungan las merupakan bagian dari logam induk yang akan disambung dan tempat terjadinya pencairan logam induk.

Mesin las arus AC

Arus listrik bolak-balik atau arus AC yang dihasilkan pembangkit listrik (PLN atau generator AC), dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam proses pengelasan. Tegangan listrik yang berasal dari pembangkit listrik belum sesuai dengan tegangan yang digunakan untuk pengelasan. Bisa terjadi tegangan terlalu tinggi atau terlalu rendah, sehingga besarnya tegangan perlu disesuaikan terlebih dahulu dengan cara menurunkan atau menaikkan tegangan.

Mesin las arus AC

Alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan disebut transformator atau trafo. Kebanyakan trafo yang digunakan pada peralatan las adalah trafo step-down, yaitu trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan. Hal ini disebabkan listrik dari pembangkit listrik mempunyai tegangan yang tinggi (110 volt sampai 240 volt), padahal kebutuhan tegangan yang dikeluarkan oleh mesin las untuk pegelasan hanya 55 volt sampai 85 volt.

Trafo yang digunakan untuk pengelasan mempunyai daya yang cukup besar. Untuk mencairkan sebagian logam induk dan elektroda dibutuhkan energi yang besar. Untuk menghasilkan daya yang besar maka perlu arus yang besar. Dengan aliran arus yang besar maka perlu kabel lilitan sekunder yang berdiameter besar. Arus yang digunakan untuk pengelasan busur listrik berkisar antara 10 ampere sampai 500 ampere. Besarnya arus listrik dapat diatur sesuai dengan keperluan pengelasan.